What's inside my head...

You were born an original. Don't die a copy.
-- John Mason

About Me

My Photo
This one is an old blog of mine that i wont ever touch anymore. Please kindly visit my new blog: stashionery.wordpress.com thx all

I LOVE DORAEMON

Loading...

Monday, October 12, 2009

Christ and Culture by Richard Neibuhr


Richard Niebuhr adalah seorang Etikus Teologia Kristen yang Amerika yang paking terkenal dengan bukunya Christ and Culture, yang membahas tentang hubungan antara Kekristen-an dan budaya maupun sistem-sistem kemasyarakatan. Dimana hal-hal yang berkaitan dengan hubungan antara keKristenan dan kebudayaan akan berkembang menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan ketika manusia mengetahui bahwa Kristus atau keKristenan itu sendiri adalah suci, sempurna, dan tidak berdosa, sementara, budaya adalah buatan manusia, dimana manusia itu sendiri penuh dosa. Lalu, timbulah pertanyaan, Bagaimana Kristus dapat bertahan di tengah-tengah dan bercampur dengan ketidaksempurnaan tersebut? Hal ini semakin dipermasalahkan lagi mengingat banyaknya ayat-ayat Alkitab yang mengharuskan kita untuk tidak menjadi seperti dunia, sementara banyak juga ayat-ayat yang mengharuskan tetap berada di dunia, sebagaimana adanya manusia. Untuk menunjukan bagaimana  keKristenan menanggapi permasalahan ini, Richard Niebuhr memperkenalkan lima pandangannya mengenai hubungan antara Kristus dan Budaya, yang antara lain: Christ against Culture, Christ of Culture, Christ above Culture, Christ and Culture in paradox, Christ transforms culture.
Sebagai pendahuluannya, Niebuhr memulai dengan definisi tentang Yesus dan Kebudayaan masing-masing. Tentang Yesus, Niebuhr berpendapat bahwa  definisi manusia tentang Yesus tidaklah cukup (mengingat bahwa manusia tidak akan pernah bisa menjangkau dan memahami hakikat Yesus secara total, dengan kenyataan bahwa konsep tentang Yesus itu sendiri telah sedemikian rupa sangat dipengaruhi oleh eksistensi kebudayaan yang telah menempel dalam perjalanan hidupa manusia sejak lahir). Kebudayaan, oleh Niebuhr, didefinisikan sebagai total proses dari aktivitas manusia dan segala manifestasinya, yang mengacu kepada lingkungan atau hal-hal sekunder (seperti adat isitadat, system-sistem kemasyarakatan, norma-norma, dll) yang manusia implementasikan ke dalam kehidupannya.
1.      Christ against Culture (Kristus vs kebudayaan)
Ini adalah pandangan yang cukup keras menegaskan tentang otoritas tunggal Kristus terhadap kebudayaan dan menolak segala hal-hal yang diyakini oleh budaya. Menurut pandangan ini, kesetiaan kepada Kristus merupakan suatu penolakan terhadap lingkungan atau system budaya, dan bahwa ada suatu garis yang dengan tegas memisahkan dunia dengan anak-anak Allah.

Sisi positif: orang-orang yang mempercayai atau menganut Christ against culture bisa dikatakan adalah faktor utama mengapa kita masih boleh bersimpati terhadap pandangan ini. Mereka yang menolak dunia, pastinya akan dengan teguh mempertahankankan keyakinannya kepada Kristus. Banyak diantara mereka yang telah menderita secara mental dan fisik demi menjalankan keinginan mereka. Bahkan mereka rela menyerahkan rumah, property, harta, dan  juga hak perlindungan negara demi pergerakan mereka menolak dunia.
Sisi negative: Menurut Niebuhr, pandangan ini tidaklah sesuai karena pemisahan antara dunia dengan Kristus tidak pernah ada dan tidak akan pernah ada, sekalipun manusia berpikir bahwa itu mungkin bisa terjadi. Selain itu, menurutnya, terdapat sebuah pengertian yang salah dimana orang-orang berpikir bahwa di dalam kebudayaan, terdapat dosa. Dan ketika keKristenan menjauhi kebudayaan, maka manusia dikatakan telah menjauhi dosa. Padahal, dosa bukan hanya mengenai budaya. Dengan atau tanpa menjauh dari budaya, manusia itu sendiri telah berdosa dan akan tetap bisa berbuat dosa. Yang terpenting menurut Niebuhr, pandangan ini tidaklah mengenal Yesus dan peran Roh dalam penciptaan dunia secara utuh.

2.      Christ of Culture (Kristus dari Budaya)
Dalam pandangan ini, manusia memposisikan Yesus sebagai Mesias dalam suatu lingkungan social mereka, sosok yang dapat memenuhi segala harapan dan aspirasi mereka, penyempurna keyakinan mereka, sumber dari roh kudus mereka. Orang yang menganut paham ini cenderung lebih terbuka untuk menjalin pertemanan atau hubungan bukan hanya dengan mereka yang percaya tapi juga dengan mereka yang tidak percaya. Mereka juga tidak bisa menemukan perbedaan yang signifikan antara gereja dan dunia, antara hokum-hukum social dengan dan kepercayaan pada Tuhan, antara etika keselamatan dan etika social. Di satu sisi, mereka menginterpretasikan kebudayaan melalui Kristus, dimana aspek yang paling mirip dengan Yesus mendapat penghormatan dan apresiasi lebih besar. Di sisi lain, mereka menginterpretasikan Kristus melalui budaya, menseleksi dari pengajaran-pengajaran Kristen yang paling harmonis dengan system-sistem social dan budaya mereka, itulah yang akan mereka aplikasikan dalam kehidupan mereka.

Sisi positif: orang cenderung merasa bahwa hanya mereka yang menolak beradaptasi dengan kebudayaan, yang dapat melakukan penyerangan terhadap kebudayaan. Orang-orang yang menganut dengan pemahaman ini pasti bisa berdamai dengan budaya dan dunia. Bagaimanapun, sejarah telah menjadi saksi bahwa manusia dapat memiliki ketertarikan akan Kristus karena adanya keselarasan antara ajaran Kristiani dengan ajaran-ajaran tokoh-tokoh besar akan moral dan pilosofi keagamaan. Dan orang-orang yang menganut paham ini cenderung akan melibatkan diri mereka ke dalam suatu lingkungan social dimana mereka merasa diri mereka potensial untuk  membuat suatu perubahan atau pengaruh terhadap individu lain dalam lingkungan tersebut.

Sisi negative: menurut Niebuhr, masalah terbesar dalam konsep pandangan ini terletak pada distorsi Kristus, dimana Kristus digambarkan sebagai sosok yang dibentuk atau sangat dipengaruhi oleh lingkungan social.

3.      Christ above Culture (Kristus dan Kebudayaan).
Pandangan ini sama sekali tidak menghadirkan pertentangan antara Kristus dengan budaya. Yang dihadirkan justru adalah pertentangan antara Kristus yang suci dengan manusia yang berdosa. Penganut paham ini menekankan bahwa Kristuslah yang berada di atas segala budaya, yang membentuk dan mengijinkannya untuk terjadi, maka dari itu budaya tidak bisa dikatakan buruk, tapi juga tidak bisa dikatakan baik. Ketika seorang manusia melakukan dosa, lalu kemudian mengekspresikan pemberontakannya kepada Tuhan lewat suatu bentuk-bentuk budaya, itu juga tidak mengartikan bahwa budaya merupaka suatu yang buruk. Mereka mengatakan bahwa budaya ada karena Kristus yang menciptakannya secara penuh, dan mereka melihat bahwa keselarasan antara Kristus dan budaya adalah sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan. Menurut Niebuhr, penganut paham ini tidak bisa membedakan antara pekerjaan manusia (yang adalah budaya) dari kemuliaan Tuhan, karena semua pekerjaan manusia itu bisa terjadi juga karena kemuliaan Tuhan. Tapi mereka juga tidak bisa memisahkan antara pengalaman akan kemuliaan Tuhan dari aktivitas budaya mereka, karena bagaimana mungkin seseorang bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan, tanpa melayani saudara-saudara mereka yang kelihatan?

Sisi positif: adanya sebuah keseimbangan antara melihat Kristus sebagai bagian dari budaya dengan meilhat Kristus sebagai sosok diluar budaya (secara Dialah yang membual budaya itu ada). Melalui paham ini, kita bisa sampai kepada pengertian tentang hokum moral dalam lingkungan social dan juga tentang keterlibatan Tuhan dalam lingkungan social. Niebuhr menjelaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk social, dan merupakan suatu yang tak mungkin jika lingkungan social menfungsikan eksistensinya tanpa arahan dari Tuhan. Maka dari itu, gerejapun akhirnya, selain memfungsikan diri sebagai pembangun iman dan spiritual, juga menfungsikan dirinya untuk menjadi penjaga/pengawas hukum-hukum dunia, sebagai suatu pelayanan terhadap dunia.

Sisi negative: masalahnya terletak ketika paham ini sampai di sebuah titik batas, akan bisa membawa dunia untuk melihat gereja sepenuhnya menjadi sebuah institusi saja (institusionalisasi gereja). Jelas sekali terlihat, bahwa paham ini suatu hari nanti akan membawa perhatian dan kayakinan umat menjadi semakin jauh dari fungsi gereja sebenarnya.     

4.      Christ and  Culture in paradox (Kristus dan Budaya dalam paradoks)
Ini adalah paham yang kurang lebuh mirip dengan Christ above culture. Perbedaannya adalah, ketika penganut paham ini berkeinginan untuk mempertahankan kesetiaan pada Kristus dan sisi lain juga ingin mempertahankan tanggung jawab terhadap budaya secara bersama-sama, mereka percaya bahwa integrasi ini bukanlah suatu hal yang seimbang dan menyenangkan, seperti yang penganut above-culture rasakan. Mereka menekankan bahwa ada sebuha paradokz, dimana konflik yang terjadi antara Kristus dan budaya disebabkan karena dosa yang terdapat dalam budaya.

Sisi positif: pandangan ini menangkap dengan cukup jelas penekanan alkitab yang di deskripsikan untuk umat Kristen di dunia. Karena manusia berada di bawah hukum, namun juga tidak dibawah hukum selain karunia. Manusia adalah pendosa namun bijaksana. Penerima pembalasan dan juga belas kasihan Kristus. Ini adalah suatu porses yang dinamis, dan juga bukanlah suatu penolakan ataupun penerimaan terhadap budaya dari model-model yang lain, tapi lebih kepada pengalaman pribadi manusia yang menjadi saksi bahwa perjalanan hidup dengan budaya penuh dengan damai juga kesengsaraan.

Sisi negative: keKristenan bisa kehilangan suara to mengatakan hal apapun yang bermakna dalam/ terhadap budaya. Ini adalah paham yang membawa kita untuk menerima budaya karena kita melihat secara bersamaan pembalasan maupun belas kasih Kristus, dan karena manusia melihat keduanya, maka akan sangat bahaya jika manusia.

5.      Christ transforms Culture (Kristus yang bertransformasi ke dalam kebudayaan)
Ini adalah sebuah paham yang paling disarankan oleh Niebuhr, dimana secara teologis, pandangan ini memiliki 3 garis besar , yaitu melihat Tuhan sebagai pencipta, menyadari bahwa kejatuhan manusia dari sesuatu yang baik, dan memandang bahwa kita merasakan interaksi antara Tuhan dengan manusia dalam perjalanan hidup manusia yang historis. Maka dari itu, penganut paham ini percaya bahwa kebudayaan manusia adalah kehidupan manusia yang telah ditransformasikan ke dalam dan di dalam kemuliaan Tuhan. Pada prakteknya, pandangan ini memiliki arti bahwa we bekerja dalam sebuah lingkup budaya untuk mengupayakan sesuatu yang lebih baik, karena Tuhan pada dasarnya telah menberikan manusia kretifitas, dan itu baik (dan jelas bisa menjadi baik). Kita juga bisa berkontribusi dalam pekerjaan transformasi ini, karena ketika di dalam budaya ada dosa, masih ada harapan melalui Kristus, untuk penyelamatan budaya itu sendiri. Lebih jauh lagi, kita akan mengalahkan dosa bukan dengan cara menjauhinya ataupun dengan memeranginya secara langsung, namun dengan bentuan mata manusia yang tertuju pada Yesus, dan niat kita yang positif dan berorientas padaNya, akan membuat kita mampu mengalahkan dosa.

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget

Followers

There was an error in this gadget